mungkin sebentar lagi aku mati rasa
lelah menerka.

putaran dunia kini melambat
sampai aku merasa pengap
tolonglah
atmosfer ini terlalu pekat

sisakan satu ruang untukku yang tak berdimensi
hingga hanya ada aku
dan anganku

tak peduli bayangan itu nyata atau tidak
kehidupan itu milikku

maaf, sosokmu semakin buram
melebur dengan kejenuhan alam sadar

pernah kucoba panjat pohon pengharapan itu
namun ternyata buahnya masih muda
atau bahkan mungkin telah membusuk
tak berguna

wahai sayang,
demi penglihatanku yang telah terkelabui
berbaliklah, hingga ragamu tersamarkan
hingga jiwamu tak lagi kurasakan.

11:24 pm
matikan lampu, dan terpejamlah
matahari esok hari tak akan memberi toleransi

Did you know how you would move me, did you know?
Did you know how you would move me?
well, I don’t even think so.
but the moment’s magic swept us away.
and it’s so close, but we’re so far away.

———–

I try to make my way to you
but still I feel so lost
I don’t know what else I can do
I’ve seen it all
and it’s never enough
it keeps leaving me needing you

———–

So you lost your trust
And you never should have
No,you never should have
But don’t break your back
If you ever hear this
But don’t answer that
In a bullet proof vest
With the windows all closed
I’ll be doing my best
I’ll see you soon
In a telescope lens
And when all you want is friends
I’ll see you soon

hey kamu.

wah wah, baru saja kemarin aku bercerita tentangmu kepada teman yang lain
menyebutkan bahwa sebenarnya aku pun tak berani bercerita lebih
tak berani mengatakan bahwa ada yang berbeda di antara kita

lalau datanglah hari ini

hari dimana ternyata salah satu pintu penjelas itu terbuka
yang ternyata tak ada secercah cahayapun yang terlihat

gelap. pekat.

sejak awal beberapa sahabat telah berkata berbagai rupa
“mustahil”
“tidak yakin”
“mungkin saja”
“positif”
“percayalah”

ah, saya tak pernah habis pikir.

saya ini manusia biasa, lho
dan karena itu lah saya akan bertanya ‘kalau memang begitu, mengapa begini?
mungkin lebih baik pintu itu tak pernah terbuka.

I don’t know what hurt you
I just, I wanna make it right
Cos boy I’m sick and tired of trying to read your mind

This is not a circus
Don’t you play me for a clown
How long can emotions keep on goin’ up and down

seems like it’s pretty hard to find another you.
i miss you.
i miss us.

akhir-akhir ini saya sering memprediksi ending hidup saya, atau, ngga usah sampe ending dulu deh, beberapa part terakhirnya aja paling.

tentu saja prediksi ini luar biasa tidak akurat.

biasanya kan suka ada tuh, para sesepuh bercerita “dulu saya waktu muda itu begini, makanya sekarang saya bisa begitu..”
saya selalu dan selalu penasaran nanti cerita versi saya bakal kaya apa ya?
apakah cerita saat saya sukses, atau saat saya tidak sukses, dan atau-atau lainnya.

selama kuliah 2 tahun lebih sedikit, sering sih ngerasa stress, tapi ngga pernah sampe se-pengen-itu berhenti.
(terus saya curhat).

bahkan hari ini, dalam kelas mata kuliah Sistem Utilitas, saya (dan 3 orang teman saya) menangis bersamaan secara kebetulan!

kenapa? ternyata alasan kami semua sama. stress.

apa sih yang salah? kuliahnya? tugasnya? atau orangnya?

terkadang saya suka mikir sendiri, ‘orang macem si A itu pernah ngga ya bosen kuliah? pernah ngga ya dia pengen berhenti kuliah?

hal-hal kaya gitu yang membuat saya berkeinginan memprediksi masa depan saya.

terkadang, saya pikir, saat saya sedang merasa pintar, prediksi saya suatu saat nanti akan jadi orang sukses.
terkadang yang lain, saat saya sedang merasa kurang pintar, prediksi saya nanti tidak akan sukses.

tentu saja saya tidak dapat berpendapat saya selalu merasa pintar setiap saat.

lingkungan ini auranya selalu akademik yang perfect. geez.

seorang teman pernah berkata, ibunya lulus kuliah karena teman-temannya juga lulus, jadi intinya kalo beliau sendirian ya ngga akan lulus-lulus sampai sekarang.

apakah saya juga seperti itu?

kuliah karena semua teman-teman saya kuliah?

kuliah karena prestige?

one thing i like the most.

you didn’t talk much but you’d hear me,

that much.

———–

unlimited thanks to allisa duhita andarathni.

anyhow, i really thank God that you never be my partner,
my co-worker,
or my leader.

and it never will be.

i don’t like you. you’re effete. you never admit it. stupid.

it’s almost one and half years
and we still chuckle while reminiscing those things

and now my feeling shows that there will be the second time
oh please,
will there be?

i wish i didn’t wish so hard
but if i could say, i would say don’t.

only dead fish follows the stream.

dikutip dari seorang teman
saya sangat sangat sangat setuju sama ungkapan itu.

ini kedua kalinya saya berkata, terlalu banyak manusia sok tahu di luar sana.

satu berkoar tentang perlawanan terhadap setiap hal buruk yang terjadi di dunia,
semua saling berebut mendukung, saling menunjukkan pada yang lain kalau mereka lah yang termasuk orang-orang hebat,
orang-orang yang berpemikiran kritis
orang-orang yang berjiwa mulia, nasionalis,
berjanji akan menjalankan setiap aspek perubahan ke arah kebaikan.

satu berkoar tentang hinanya sesuatu yang merusak nama baik bangsa,
semua saling mendahului ikut-ikutan menyerukan kebencian,
saling mencari perhatian dunia dengan memperlihatkan bahwa mereka sebegitu cintanya dengan tanah air.

CIH, OMONG KOSONG.

TERLALU BERLAGAK KALIAN MANUSIA.