hujan terlalu cepat mengantarkan pelangi
hingga bias sinarnya tak tersentuh, tak lagi dimiliki
perlahan kami mencari pendaran cahaya putih di setiap sudut kelam
terseok-seok, terkhianati tiap tusuk sapu lidi yang bergerombol membasmi
pelangi itu berdiam diri memandangi
bersolek dalam semesta imaji milik rintik hujan yang tersisa
dan seketika matahari kembali berkuasa
merah tak lagi merah, putih tak lagi putih
memudarkan konsentrasi pekat yang mengisi lembaran terkibar di atas tiang
plastik warna-warni menjelma menjadi titik-titik kepala yang berorientasi
hitam, cokelat, dan putih
dan merah, dan biru
dan hitam
terpejar buyar melintasi rute kebiasaan
tak ada yang peduli pada kami, kami tak peduli pada mereka
potensi tersangkutnya rasa terlihat samar dari sini dan sana
sampai pelangi mengutus awan membentuk kata
“MUNAFIK!”