“Aku ingin menulis.. Sebuah cerita..”
“Tulislah apa yang ingin kau ceritakan.”
“Cukup sulit..”
“Mengapa?”
“Biasanya tulisanku kutujukan untuk seseorang, tetapi aku tak ingin menyebutkan namanya. Aku ingin orang itu tahu ketika membaca tulisanku, namun tidak demikian dengan orang lain yang tidak kumaksud..”
“Implisit maksudmu?”
“Kurang lebih begitu..”
“Bukannya tulisan-tulisanmu cukup banyak yang tertulis secara implisit?”
“Tidak terlalu.. Walau mungkin iya..”
“Lalu apa yang kau sulitkan untuk cerita yang satu ini?”
“Kali ini aku ingin menulis sesuatu untuk seseorang. Aku ingin ia mengetahui bahwa tulisanku ditujukan untuknya. Lalu aku ingin ia merasa sangat amat bersalah karena telah membuatku seperti ini, dan menyesal.”
“Maka tulislah bahwa ia menyakitimu..”
“Tidak, ia tidak menyakitiku.”
“Lantas mengapa ia harus menyesal?”
“Karena sebagian diriku tidak terima jika ia hanya dibilang menyenangkan..”
“Sepertinya ceritamu cukup rumit..”
“Begitulah. Dalam pikiranku tidak ada ide sama sekali, sekaligus sangat banyak ide yang bermunculan. Keduanya membuatku harus berpikir lagi, bingung saya.”
“Mungkin kau harus tahu dulu apa yang ingin kau tulis.”
“Aku tahu. Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa yang akan kutulis. Aku hanya bingung bagaimana cara menuliskannya.”
“Tidak mencoba bertanya pada orang lain?”
“Sudah. Namun tak satupun yang match dengan apa yang aku mau.”
“Tentu saja. Kau perfeksionis. Tidak akan ada pendapat orang lain yang lebih benar menurutmu.”
“Kalau kau tahu hal itu, mengapa kau menyarankanku untuk bertanya pada orang lain?”
“Tetapi kau sendiri sudah melakukannya bukan? Kau tak sadar bahwa kau itu perfeksionis?”
“Sadar. Namun terkadang aku tak ingin mengakuinya.”
“Mengapa? Kau tak ingin mengakui eksistensi dirimu?”
“Karena menurutku sifat itu sedikit banyak merugikan. Aku menjadi tak pernah puas dengan apa yang kuperoleh.”
“Bukankah itu bagus? Manusia yang baik akan terus memperbaiki dirinya bukan?”
“Iya. Namun sifat itu membuatku tidak menikmati hidup. Kalau semua sudah sempurna, aku tidak lagi memiliki keinginan, karena keinginanku adalah menyempurnakan apa-apa yang belum sempurna.”
“Menurutku tidak.”
“Atas dasar apa?”
“Aku mengenal dirimu jauh lebih dalam dari yang kamu kira karena aku adalah kau. Ketika kau melihat segalanya sempurna, kau akan senang, karena semua seperti yang kau inginkan.”
“Sudahlah. Aku sedang tak ingin berdebat soal itu.”
“Lalu? Apakah sekarang kau telah menemukan cara untuk menuliskan ceritamu itu?”
“Belum. Tiba-tiba hasratku untuk menulis surut. Mungkin suatu saat nanti aku akan menemukan caranya, tanpa harus bertanya padamu. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
30 Dec